Pengertian
Subnetting Pada Jaringan Komputer
1.
Pengertian subnetting
Subnetting adalah teknik memecah suatu jaringan besar
menjadi jaringan yang lebih kecil dengan cara mengorbankan bit Host ID pada
subnet mask untuk dijadikan Network ID baru. Subnetting merupakan teknik
memecah network menjadi beberapa subnetwork yang lebih kecil. Subnetting hanya
dapat dilakukan pada IP addres kelas A, IP Address kelas B dan IP Address kelas
C. Dengan subnetting akan menciptakan beberapa network tambahan, tetapi mengurangi
jumlah maksimum host yang ada dalam tiap network tersebut.
Mengapa harus melakukan subnetting? Ada beberapa
alasan mengapa kita perlu melakukan subnetting, diantaranya adalah sebagai
berikut:
- Untuk mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa memaksimalkan penggunaan IP Address.
- Mengatasi masalah perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan daam suatu network, karena Router IP hanya dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media fisik yang berbeda jika setiap network memiliki address network yang unik.
- Meningkatkan security dan mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host dalam suatu network.
Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua cara
yaitu binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Penulisan IP
address umumnya adalah dengan 192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan
192.168.1.2/24. Penjelasanya adalah bahwa IP address 192.168.1.2 dengan subnet
mask 255.255.255.0. Kenapa bisa seperti ?maksud /24 diambil dari penghitungan
bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan binari 1. Atau dengan kata lain,
subnet masknya adalah: 11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0).
Konsep ini yang disebut dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang
diperkenalkan pertama kali tahun 1992 oleh IEFT. Pada hakekatnya semua
pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah: Jumlah
Subnet, Jumlah Host per Subnet, Blok Subnet, dan Alamat Host- Broadcast.
.
2. Tujuan Subnetting
· Untuk
mengefisienkan pengalamatan (misal untuk jaringan yang hanya mempunyai 10 host,
kalau kita menggunakan kelas C saja terdapat 254 – 10 =244 alamat yang tidak
terpakai).
· Membagi satu
kelas network atas sejumlah subnetwork dengan arti membagi suatu kelas jaringan
menjadi bagian-bagian yang lebih kecil.
· Menempatkan
suatu host, apakah berada dalam satu jaringan atau tidak. Menempatkan suatu
host, apakah berada dalam satu jaringan atau tidak.
·
Untuk
mengatasi masalah perbedaaan hardware dengan topologi fisik jaringan.
· Untuk
mengefisienkan alokasi IP Address dalam sebuah jaringan supaya bisa
memaksimalkan penggunaan IP Address.
·
Mengatasi
masalah perbedaan hardware dan media fisik yang digunakan daam suatu network,
karena Router IP hanya dapat mengintegrasikan berbagai network dengan media
fisik yang berbeda jika setiap network memiliki address network yang unik.
· Meningkatkan
security dan mengurangi terjadinya kongesti akibat terlalu banyaknya host dalam
suatu network.
3. Fungsi Subnetting
·
Mengurangi
lalu-lintas jaringan, sehingga data yang lewat di perusahaan tidak akan
bertabrakan (collision) atau macet.
·
Teroptimasinya
unjuk kerja jaringan.
·
Pengelolaan
yang disederhanakan.
·
Membantu pengembangan
jaringan ke arah jarak geografis yang menjauh.
4. Proses Subnetting
·
Menentukan
jumlah subnet yang dihasilkan oleh subnet mask.
·
Menentukan
jumlah host per subnet.
·
Menentukan
subnet yang valid.
·
Menentukan
alamat broadcast untuk tiap subnet.
·
Menentukan
host – host yang valid untuk tiap subnet.
5. Subnet Mask
Subnetmask digunakan untuk membaca bagaimana
kita membagi jalan dan gang, atau membagi network dan hostnya. Address
mana saja yang berfungsi sebagai SUBNET, mana yang HOST dan mana yang
BROADCAST. Semua itu bisa kita ketahui dari SUBNET MASKnya. SUBNET MASK DEFAULT
ini untuk masing-masing Class IP Address adalah sbb:
|
Class
|
Oktet Pertama
|
Subnet Mask Default
|
Private Address
|
|
A
|
1 – 127
|
255.0.0.0
|
10.0.0.0 –
10.255.255.255
|
|
B
|
128 – 191
|
255.255.0.0
|
172.16.0.0
– 172.31.255.255
|
|
C
|
192 – 223
|
255.255.225.0
|
192.168.0.0
– 192.168.255.255
|
Subnetmask diperlukan oleh TCP/IP untuk menentukan
apakah suatu jaringan yang dimaksud adalah termasuk jaringan lokal atau non
lokal.
Network ID dan host ID di dalam IP address dibedakan
oleh penggunaan subnet mask. Masing-masing subnet mask merupakan pola nomor
32-bit yang merupakan bit groups dari semua (1) yang menunjukkan network ID dan
semua nol (0) menunjukkan host ID dari porsi IP address.
|
Kelas IP Address
|
BIT SUBNET (Default)
|
SUBNETMASK (Default)
|
|
A
|
11111111
00000000 00000000 00000000
|
255.0.0.0
|
|
B
|
11111111
11111111 00000000 00000000
|
255.255.0.0
|
|
C
|
11111111
11111111 11111111 00000000
|
255.255.255.0
|
Jangan bingung membedakan antara subnet mask dengan IP
address. Sebuah subnet mask tidak mewakili sebuah device atau network
di internet. Subnet mask digunakan untuk menandakan bagian mana dari IP address
yang digunakan untuk menentukan network ID. Anda dapat langsung dengan mudah
mengenali subnet mask, karena octet pertama pasti 255, oleh karena itu 255
bukanlah octet yang valid untuk IP address class.
Terdapat
aturan-aturan dalam membuat Subnet Mask:
Angka
minimal untuk network ID adalah 8 bit. Sehingga, oktet pertama dari subnet
pasti 255.
·
Angka
maksimal untuk network ID adalah 30 bit. Anda harus menyisakan sedikitnya 2 bit
untuk host ID, untuk mengizinkan paling tidak 2 host. Jika anda menggunakan
seluruh 32 bit untuk network ID, maka tidak akan tersisa untuk host ID. Ya,
pastilah nggak akan bisa. Menyisakan 1 bit juga tidak akan bisa. Hal itu
disebabkan sebuah host ID yang semuanya berisi angka 1 digunakan untuk
broadcast address dan semua 0 digunakan untuk mengacu kepada network itu
sendiri. Jadi, jika anda menggunakan 31 bit untuk network ID dan menyisakan
hanya 1 bit untuk host ID, (host ID 1 digunakan untuk broadcast address dan
host ID 0 adalah network itu sendiri) maka tidak akan ada ruang untuk host
sebenarnya. Makanya maximum network ID adalah 30 bit.
·
Karena
network ID selalu disusun oleh deretan angka-angka 1, hanya 9 nilai saja yang
mungkin digunakan di tiap octet subnet mask (termasuk 0). Tabel berikut ini
adalah kemungkinan nilai-nilai yang berasal dari 8 bit.
|
BINARY
OCNET
|
DECIMAL
|
|
00000000
|
0
|
|
10000000
|
128
|
|
11000000
|
192
|
|
11100000
|
224
|
|
11110000
|
240
|
|
11111000
|
248
|
|
11111100
|
252
|
|
11111110
|
254
|
|
11111111
|
255
|
6.
Penghitungan Subnetting
Penghitungan subnetting bisa dilakukan dengan dua
cara, cara binary yang relatif lambat dan cara khusus yang lebih cepat. Pada
hakekatnya semua pertanyaan tentang subnetting akan berkisar di empat masalah
yaitu:
· Jumlah Subnet.
· Jumlah Host per Subnet.
· Blok Subnet.
· Alamat Host- Broadcast.
Penulisan IP address umumnya adalah dengan
192.168.1.2. Namun adakalanya ditulis dengan 192.168.1.2/24 artinya bahwa IP
address 192.168.1.2 dengan subnet mask 255.255.255.0. Lho kok bisa seperti itu?
Ya, /24 diambil dari penghitungan bahwa 24 bit subnet mask diselubung dengan
binari 1. Atau dengan kata lain, subnet masknya adalah:
11111111.11111111.11111111.00000000 (255.255.255.0). Konsep ini yang disebut
dengan CIDR (Classless Inter-Domain Routing) yang diperkenalkan pertama kali
tahun 1992 oleh IEFT.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar